MAKALAH
MATA KULIAH BELAJAR
DAN
PEMBELAJARAN
PEMBELAJARAN YANG BERPIJAK PADA TEORI KOGNITIF
I.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Banyak Negara mengakui bahwa persoalan
pendidikan merupakan persoalan yang pelik,namun pendidikan merupakan tugas
Negara yang amat penting. Namun, di negara-negara berkembang adopsi system
pendidikan sering mengalami kesulitan untuk berkembang. Cara dan
system pendidikannya sering menjadi kritik dan kecaman. Pada makalah ini akan dikaji tentang pandangan kognitif dalam kegiatan
pembelajaran. Teori Kognitif lebih menekankan bahwa belajar lebih banyak
ditentukan karena adanya karsa individu. Penataan kondisi bukan sebagai
penyebab terjadinnya belajar, tetapi sekedar memudahkan belajar. Keaktifan
siswa menjadi unsure amat penting dalam menentukan kesuksesan belajar.
Aktivitas mandiri adalah jaminan untuk mencapai hasilyang sejati. Para pendidik
(Guru) dan para perancang pendidikan serta pengembang program- program
pembelajaran perlu menyadari akan pentingnya pemahaman terhadap
hakikat belajar dan pembelajaran. Teori belajar dan pembelajaran seperti
teori kognitif pentinguntuk dimengerti dan diterapkan sesuai dengan kondisi dan
konteks pembelajaran yang dihadapi. Pada bagian ini dikaji tentang pandangan
kognitif terhadap proses belajar dan aplikasiteori kognitif dalam kegiatan
pembelajaran. Pembahasan diarahkan pada pengertian belajar menurut teori
kognitif, teori perkembangan Piaget, teori belajar menurut Bruner, dan
teori belajar menurut Ausubel. Masing-masing teori memilki kelemahan dan
kelebihan. Pendidik/pengajar yang professional akan dapat memilih teori mana
yang tepat untuk tujuan tertentu, karakteristik materi pelajaran tertentu,
dengan cirri-ciri siswa yang dihadapi, dan dengan kondisi lingkungan serta
sarana dan prasarana yang tersedia.
B. Rumusan Masalah
1. Jelaskan pandangan belajar dari segi psikologi kognitif?
2. Bagaimana belajar menurut teori kognitif?
3. Jelaskan teori perkembangan belajar menurut piaget?
4. Bagaimana teori belajar menurut Bruner?
5. Bagaimana teori belajar menurut Ausubel?
6. Bagaimana aplikasi teori kognitif pada pembelajaran?
C. Tujuan
1. Menjelaskan pandangan belajar dari segi psikologis
kognitif
2. Menjelaskan pengertian belajar dari segi teori kognitif
3. Menjabarkan pandangan Piaget tentang belajar beserta
tahap-tahapnya
4. Menjelaskan tentang teori belajar menurut Bruner
5. Menjelaskan tentang teori belajar menurut Ausabel beserta
tahap-tahapnya
6. Mempaparkan aplikasi kognitif pada pembelajaran
II.
PEMBAHASAN
Pandangan Tentang Belajar Psikologi
kognitif mengatakan bahwa perilaku manusia tidak ditentukan oleh stimulus yang berada diluar dirinya, melainkan oleh faktor yang ada pada
dirinya sendiri. Faktor-faktor internal itu berupa kemampuan atau potensi yang
berfungsi untuk mengenal dunia luar, dan dengan pengenalan itu manusia mampu memberikan respon
terhadap stimulus. Berdasarkan pada
pandangan itu teori psikologi kognitif memandang belajar sebagai proses pemfungsian
unsur-unsur kognisi terutama pikiran, untuk dapat mengenal dan memahami stimulus yang datang dari luar. Dengan kata lain,
aktivitas belajar manusia ditentukan
pada proses internal dalam berpikir yakni pengolahan informasi. Intisari dari teori belajar konstruktivisme adalah bahwa belajar
merupakan proses penemuan (discovery) dan transformasi informasi kompleks
yang berlangsung pada diri seseorang.
Individu yang sedang belajar dipandang sebagai orang yang secara konstan memberikan informasi baru untuk dikonfirmasikan dengan prinsip
yang telah dimiliki, kemudian merevisi
prinsip tersebut apabila sudah tidak sesuai dengan informasi yang baru
diperoleh. Agar siswa mampu
melakukan kegiatan belajar, maka ia harus melibatkan diri secara aktif. Psikologi kognitif adalah
psikologi yang bersifat interpersonal dan sosial yang diasali oleh kondisi intrapersonal seseorang. Ia merupakan kendaraan
efektif guna memahami manusia sebagai pribadi yang hidup berinteraksi, baik
secara psikologis maupun secara sosial, atau bahkan lingkungan psikologis. Untuk
memahami keadaan tersebut, bisa dibedakan dengan konsep dua kutub: orang dan lingkungannya
(lingkungan psikologis). Kedua kutub itu merupakan hubungan yang saling
bergantung, dan bukan merupakan variabel bebas. Orang tidak mungkin hidup tanpa
lingkungan psikologisnya, juga sebaliknya, lingkungan psikologis tidak pernah
ada tanpa orang. Karena konsepnya bukan fisik, melainkan psikologis, maka
pola-pola struktur psikologis, seperti insight (wawasan), dan struktur
kognitif, menjadi penting keadaannya. Belajar selanjutnya dibatasi sebagai
proses komunikasi dan interaksional pada manusia dalam memperoleh insight (wawasan) baru. Dengan begitu ia
merupakan perubahan dalam struktur kognitif, dan termasuk insight itu sendiri.
Model belajar kognitif merupakan
suatu bentuk teori belajar yang sering disebut sebagai model perseptual. Model
belajar kognitif mengatakan bahwa tingkah laku seseorang ditentukan oleh
persepsi serta pemahaman tentang situasi yang
berhubungan dengan tujuan belajarnya. Teori kognitif juga menekankan bahwa
bagian-bagian dari suatu situasi saling berhubungan dengan seluruh konteks
situasi tersebut. Teori ini berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses
internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi, dan
aspek-aspek kejiwaan lainnya. Proses belajar terjadi antara lain mencakup
pengaturan stimulus yang diterima dan menyesuaikannya dengan struktur kognitif
yang sudah dimiliki dan terbentuk di dalam pikiran
seseorang berdasarkan pemahaman dan pengalaman - pengalaman sebelumnya.
A.
Teori Perkembangan Piaget
Menurut Piaget, proses belajar seseorang akan
mengikuti pola dan tahap-tahap perkembangan sesuai dengan umurnya. Pola dan
tahap-tahap ini bersifat hirarkhis, artinya harus dilalui berdasarkan urutan
tertentu. Piaget membagi tahap-tahap perkembangan kognitif ini menjadi empat
yaitu :
a.
Tahap sensorimotor (umur 0-2 tahun)
Pertumbuhan kemampuan anak tampak dari kegiatan
motorik dan persepsinya yang sederhana.
b.
Tahap preoperasional (umur 2-7/8 tahun)
Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah pada penggunaan
simbol atau bahasa tanda, dan mulai berkembangnya konsep-konsep intuitif. Tahap
ini dibagi menjadi dua, yaitu preoperasional dan intuitif. Preoperasional
(umur 2-4 tahun), anak telah mampu menggunakan bahasa dalam mengembangkan
konsepnya, walaupun masih sangat sederhana. Tahap intuitif (umur 4-7 atau
8 tahun), anak telah dapat memperoleh pengetahuan berdasarkan pada kesan yang
agak abstrak. Dalam menarik kesimpulan sering tidak diungkapkan dengan
kata-kata.
c.
Tahap operasional konkret (umur 7 atau 8-11 atau 12
tahun)
Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak
sudah mulai menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis, dan ditandai adanya
reversible dan kekekalan. Anak telah memiliki kecakapan berpikir logis, akan
tetapi hanya dengan benda-benda yang bersifat konkret.
d.
Tahap Operasional formal (umur 11/12-18 tahun)
Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak
sudah mampu berpikir abstrak dan logis dengan menggunakan pola berpikir
“kemungkinan”. Secara umum, semakin tinggi tahap perkembangan kognitif
seseorang akan semakin teratur dan semakin abstrak cara berpikirnya.
B.
Teori Perkembangan Bruner
Menurut Bruner perkembangan kognitif
seseorang terjadi melalui tiga tahapan yang ditentukan oleh caranya melihat
lingkungan, yaitu: enaktif, ikonik dan simbolik.
1.
Tahap enaktif, seseorang melakukan aktivitas-aktivitas
dalam upayanya untuk memahami ligkungan sekitarnya. Artinya, dalam memahami
dunia sekitarnya anak menggunakan pengetahuan motorik.
2.
Tahap ikonik, seseorang memahami objek-objek atau
dunianya melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal.
3.
Tahap simbolik, seseorang telah mampu memiliki ide-ide
atau gagasan-gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam
berbahasa dan logika.
Menurut Bruner, perkembangan
kognitif seseorang dapat ditingkatkan dengan cara menyusun materi pelajaran dan
menyajikannya sesuai dengan tahap perkembangan orang tersebut. Kegiatan
mengkategori memiliki dua komponen yaitu: pertama, tindakan pembentukan konsep.
Kedua, tindakan pemahaman konsep. Artinya langkah pertama merupakan pembentukan
konsep, kemudian baru pemahaman konsep.
C.
Teori Belajar Bermakna
Ausubel
Menurut konsep Ausubel, dikatakan
bahwa pengetahuan diorganisasi dalam ingatan seseorang dalam struktur
hirarkhis. Ini berarti
bahwa pengetahuan yang lebih umum, inklusif dan abstrak membawahi pengetahuan
yang lebih spesifik dan kongkret. Advance organizers yang juga
dikembangkan oleh Ausubel merupakan penerapan konsepsi tentang struktur
kognitif di dalam merancang pembelajaran. Konsepsi dasar mengenai struktur
kognitif inilah yang dijadikan landasan teoritik dalam mengembangkan
teori-teori pembelajaran. Beberapa pemikiran ke arah penataan isi bidang studi
atau materi pembelajaran sebagai strategi pengorganisasian isi pembelajaran
yang berpijak pada teori kognitif, antara lain: hirarhki belajar, analisis
tugas, subsumptive sequence, kurikulum spiral, teori skema, web
teaching, dan teori elaborasi.
D.
Aplikasi Teori Kognitif
dalam Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran yang berpijak
pada teori belajar kognitif ini sudah banyak digunakan. Dalam merumuskan tujuan
pembelajaran, mengembangkan strategi dan tujuan pembelajaran, tidak lagi
mekanistik. Kebebasan dan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar
sangat diperhitungkan, agar belajar lebih bermakna bagi siswa. Ketiga tokoh
aliran kognitif di atas secara umum memiliki pandangan yang sama yaitu
mementingkan keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar. Menurut Piaget,
hanya dengan mengaktifan siswa secara optimal maka proses asimilasi dan
akomodasi pengetahuan dan pangalaman dapat terjadi dengan baik. Sementara itu,
Bruner lebih banyak memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar sendiri
melalui aktivitas menemukan (discovery). Sedangkan Ausubel lebih
mementingkan struktur disiplin ilmu
III. KESIMPULAN
Pengertian belajar menurut teori
kognitif adalah perubahan persepsi dan pemahaman, yang tidak selalu berbentuk
tingkah laku yang dapat diamati dan dapat diukur. Menurut Piaget, kegiatan
belajar terjadi sesuai dengan pola tahap-tahap pekembangan tertentu dan umur
seseorang, serta melalui proses asimilasi, akomodasi dan equilibrasi. Sedangkan
Bruner mengatakan bahwa belajar terjadi lebih ditentukan oleh cara seseorang
mengatur pesan atau informasi dan bukan ditentukan oleh umur. Proses belajar
akan terjadi melalui tahap-tahap enaktif, ikonik dan simbolik. Sementara
Ausubel mengatakan bahwa proses belajar terjadi jika sseorang mampu
mengasimilasikan pengetahuan yang telah dimilikinya dengan pengetahuan baru.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. Aplikasi Teori
Kognitif. (online). (http://www.scribd.com/doc/56996753/ aplikasi-Teori-Kognitif, diakses tanggal 5 April 2012).
Anonim.2011. Pembelajaran Yang Berpijak Pada Teori Kognitif.
(online). (http://einstein fisika.blogspot.com/2011/06/
pembelajaran- yang- berpijak- pada- teori. html, diakses tanggal 4 April 2012).
Anonim.2011. Pembelajaran Teori Kognitif. (online). (http://matematika-ipa.com/teori-belajar-dan-pembelajaran-teori-teori-klasik-teori-teori-belajar-proses-teori-teori-kognitif/ , diakses tanggal 4 April 2012).
Disanjaya, Alita. 2011. Teori Pembelajaran Kognitif.(online).(http://alitadisanjaya.blogspot.
com/2011/03/teori-pembelajaran-kognitif.html , diakses tanggal 5 April 2012).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar