BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Radioaktifitas adalah
sifat suatu unsur yang dapat memancarkan radiasi (pancaran sinar) secara
spontan. Tergolong ke dalam zat radioaktif, unsur tersebut biasanya bersifat
labil, berarti tergolong zat radioaktif adalah isotopnya, karena untuk mencapai
kestabilan salah satunya harus melakukan peluruhan. Peluruhan zat radioaktif
untuk menghasilkan unsur yang lebih stabil sambil memancarkan partikel seperti,
partikel alpha α (sama dengan inti 4He), partikel beta (β), dan
partikel gamma (γ).
Ciri lain dari zat radioaktif
adalah bahwa setiap zat yang memancarkan radiasi pengion dengan aktivitas
jenis lebih besar daripada 70 kBq/kg atau 2 nCi/g (tujuh puluh kilobecquerel
per kilogram atau dua nanocurie per gram). Angka 70 kBq/kg (2 nCi/g) tersebut
merupakan patokan dasar untuk suatu zat dapat disebut zat radioaktif pada
umum-nya yang ditetapkan berdasarkan ketentuan dari Badan Tenaga Atom
Internasional (International Atomic Energy Agency). Namun, masih terdapat
beberapa zat yang walaupun mempunyai aktivitas jenis lebih rendah daripada
batas itu dapat dianggap sebagai zat radioaktif karena tidak mungkin ditentukan
batas yang sama bagi semua zat mengingat sifat masing-masing zat tersebut
berbeda.
Pengenalan radioisotop bagi kehidupan umat manusia dimaksudkan
untuk kesejahteraan manusia, dan bukan untuk mengancam kehidupan manusia.
Penggunaan radioisotop sebagai perunut didasarkan pada kenyataan bahwa isotop
radioaktif mempunyai sifat kimia yang sama dengan isotop stabil. Jadi, suatu
isotop radioaktif melangsungkan reaksi kimia yang sama seperti isotop
stabilnya. Sedangkan penggunaan radioisotop sebagai sumber radiasi didasarkan
pada kenyataan bahwa radiasi yang dihasilkan zat radioaktif dapat mempengaruhi
materi maupun mahluk. Radiasi dapat digunakan untuk memberi efek fisis, efek
kimia, maupun efek biologis.
Di
negara-negara maju penggunaan dan penerapan radioisotop telah dilakukan dalam
berbagai bidang. Radioisotop adalah isotop suatu unsur
radioaktif yang memancarkan sinar radioaktif. Isotop suatu unsur baik stabil maupun
yang radioaktif memiliki sifat kimia yang sama. Penggunaan radioisotop dapat
dibagi ke dalam penggunaan sebagai perunut dan penggunaan sebagai sumber
radiasi. Radioisotop sebagai perunut digunakan untuk mengikuti unsur dalam
suatu proses yang menyangkut senyawa atau sekelompok senyawa. Radioisotop dapat
digunakan sebagai sumber sinar sebagai pengganti sumber lain misal sumber sinar
X.
BAB II
Khusus dalam bidang
pertanian, manfaat sinar radioaktif sangat besar, yaitu sebagai berikut:
a.
Pembentukan
Bibit Unggul
Dalam bidang pertanian, radiasi gamma dapat digunakan untuk
memperoleh bibit unggul. Sinar gamma menyebabkan perubahan dalam struktur dan
sifat kromosom sehingga memungkinkan menghasilkan generasi yang lebih baik,
misalnya gandum dengan yang umur lebih pendek. Radiasi mampu menembus biji
tanaman sampai ke lapisan kromosom. Struktur dan jumlah pasangan kromosom pada
biji tanaman dapat dipengaruhi dengan sinar rasiasi ini. Perubahan struktur
akibat rasiasi dapat berakibat pada perubahan sifat tanaman dan keturunannya.
Selain sinar gamma, fosfor-32 (P-32) juga berguna untuk
membuat benih tumbuhan yang bersifat lebih unggul dibandingkan induknya.
Radiasi radioaktif ini ke tanaman induk akan menyebabkan ionisasi pada berbagai
sel tumbuhan. Ionisasi inilah yang menyebabkan turunan akan mempunyai sifat
yang berbeda dari induknya. Kekuatan radiasi yang digunakan diatur sedemikian
rupa hingga diperoleh sifat yang lebih unggul dari induknya.
Bibit unggul hasil mutasi melalui radiasi, misalnya dengan
menggunakan Co-60 pada padi pelita I menghasilkan bibit unggul jenis padi
Atomita dan radiasi kedelai dengan sinar gamma menghasilkan bibit unggul
kedelai muria. Banyak penerapan pemuliaan tanaman yang sudah dilakukan, salah
satunya adalah tanaman padi. menurut uji multilokasi yang menurut standar
Departemen Pertanian, Sejak 1982 Studi pemanfaatan teknologi radiasi nuklir
terhadap pemuliaan padi sudah dilakukan Batan sejak tahun 1982.
b.
Pemupukan dan
Pemberantasan Hama dengan Serangga Mandul
Radioisotop fosfor dapat dipakai untuk mempelajari
pemakaian pupuk oleh tanaman. Ada jenis tanaman yang mengambil fosfor sebagian
dari tanah dan sebagian dari pupuk. Berdasarkan hal inilah digunakan fosfor
radioaktif untuk mengetahui pola penyebaran pupuk dan efesiensi pengambilan
fosfor dari pupuk oleh tanaman. Teknik radiasi juga dapat digunakan untuk
memberantas hama dengan menjadikan serangga mandul.
Dengan radiasi dapat mengakibatkan efek biologis, sehingga
timbul kemandulan pada serangga jantan. Kemandulan ini dibuat di laboratorium
dengan cara hama serangga diradiasi sehingga serangga jantan menjadi mandul.
Setelah disinari hama tersebut dilepas di daerah yang terserang hama, sehingga
diharapkan akan terjadi perkawinan antara hama setempat dengan jantan mandul
yang dilepas, sehingga telur itu tidak akan menetas. Radiasi dapat
mengakibatkan efek biologis, misalnya hama kubis. Di laboratorium dibiakkan
hama kubis dalam bentuk jumlah yang cukup banyak. Hama tersebut lalu diradiasi
sehingga serangga jantan menjadi mandul. Setelah itu hama dilepas di daerah
yang terserang hama. Diharapkan akan terjadi perkawinan antara hama setempat
dengan jantan mandul dilepas. Telur hasil perkawinan seperti itu tidak akan
menetas. Dengan demikian reproduksi hama tersebut terganggu dan akan mengurangi
populasi.
Radiasi dapat menghambat proses kebebasan sel gonad
sehinnga menimbulkan kemandulan pada beberapa hewan atau seranga jantan.
Kemudian ini disebabkan oleh penurunan jumlah sel spermaatau sperma tidak aktif
sehingga tidak mampu membuahi sel telur . jika terjadi perkawinan antara
serangga jantan dan serangga betina maka akan dihasilkan telur yang tidak mampu
menetas sehingga secara tidak langsung populasi serangga akan menurun.
c.
Mutasi tanaman (untuk menemukan varietas
unggul).
Salah satu cara untuk mendapatkan rangkaian sifat yang
baik yaitu dengan mengubah faktor pembawa sifat (gen). Perubahan gen yang dapat
menyebabkan perubahan sifat makhluk hidup dan diwariskan disebut mutasi. Sinar
radioaktif yang biasanya digunakan untuk mutasi adalah sinar gamma yang
dipancarkan dari radioaktif Cobalt-60. Contohnya adalah padi atomita dan
kedelai muria.
d. Pengawetan makanan.
Dilakukan agar bahan
makanan yang disimpan tidak mudah rusak. Pengawetan makanan secara tradisional
seperti pengeringan, pemanasan, dan pengasapan masih memiliki kekurangan karena
pada jenis makanan tertentu sifat makanan dapat berubah, ditumbuhi jamur, dan
dapat diserang serangga. Penemuan cara pengawetan dengan teknik radiasi dapat
meminimalkan kerusakan yang terjadi pada makanan.
Manfaat sinar radioaktif
dalam pengawetan makanan adalah:
v Menghambat pertunasan pada beberapa bahan makanan, misalnya bawang,
kentang, jahe, kunyit dan kencur.
v Memperpanjang masa simpan beberapa hasil pertanian segar, misalnya menunda
kematangan buah.
v Mengurangi bakteri-bakteri pembusuk daging.
v Membebaskumankan atau sterilisasi rempah-rempah.
v Mengendalikan kuman-kuman penyebab penyakit dan kuman-kuman parasit yang
ada dalam makanan.
Beberapa keuntungan menggunakan sinar radioaktif dalam
pengawetan makanan antara lain:
v Sifat bahan makanan tidak berubah.
v Dapat meningkatkan mutu.
v Tidak menimbulkan zat sisa pengawet.
v Dapat dilakukan pada makanan yang dikemas sederhana.
v Mengetahui masa pemupukan yang paling baik
Fakta contoh :
v Stroberi tanpa radiasi, yang berjamur setelah di simpan beberapa hari
v Stroberi yang tetap segar setelah penyimpanan dua minggu karena telah
disterilisasi dengan cara radiasi.
BAB III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
a. Penggunaan Radioisotop zat radioaktif yang sangat luas dewasa ini dapat
menimbulkan berbagai sensasi dalam kehidupan.
b. Zat radioaktif dan radioisotop berperan besar dalam bidang pertanian antara
lain yaitu :
Ø Mutasi tanaman (untuk menemukan varietas unggul).
Ø Pemberantasan hama dengan teknik jantan mandul
Ø Pengawetan makanan
Ø Pemuliaan makanan
c. Kemajuan teknologi dengan ditemukannya zat radioaktif dan radioisotop
memudahkan aktifitas manusia dalam berbagai bidang kehidupan.
2.
Saran
Masih banyak hal- hal yang menarik mengenai
radioisotop, terutama pada manfaatnya. Meskipun dibalik banyaknya manfaat
terdapat bahaya yang cukup signifikan yang dapat membahayakan banyak hal.
Disini masih banyak yang belum dituangkan penulis tentang segala yang terkait
dengan radioisotop. Oleh karena itu, penulis juga berharap :
a.
Dr. Rachmat Saputra, M.Si selaku Dosen mata kuliah Radiokimia untuk
menyempurnakan makalah ini apabila terdapat kesalahan.
b.
Para
peneliti agar bisa menemukan terobosan-terobosan baru radioisotop untuk
dimanfaatkan di masa depan.
c.
Pembaca
maupun pembuat makalah selanjutnya memuatkan hal-hal yang lebih
menarik terkait radioisotop di dalam makalahnya.
DAFTAR PUSTAKA
Allingger, Norman.1993. Organic
Chemistry. New york: Gracindo
Badan Tenaga Atom Nasional. 1998. Pengembangan dan
Penelitian Aplikasi Isotop Dan Radiasi. Jakarta: Jumatom
Gabriel, J.F, 1979. Fisika Kedokteran. New
york: Udayana
Jalil, A.A. Abdul. Zat Radioaktif Dan Penggunaan
Radioisotop Bagi Kesehatan. Sumatra
Utara: Usu
Justiana, Muchtaridi. 2009. Kimia
1, kimia dasar jilid 1. Bogor: Yudhistira
Magdalena. Merry. 2008. Radiasi Nuklir Mampu
Hasilkan Padi Tahan Hama. (online). (http://task-list.blogspot.com/2008/05/radiasi-nuklir-mampu-hasilkan-padi.html) diakses pada tanggal 15 Juni 2013.
Purba, Michael. 1994. Ilmu Kimia.
Jakarta: Erlangga
Siswanto. 2009. Kompetensi
Fisika. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan
Nasional
Sunandar. 2011. Kartu ajaib rumus
kimia. Cimanggis, Depok: Media Pusindo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar