BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG MASALAH
Belajar adalah suatu aktifitas dimana terdapat sebuah proses
dari tidak tahu menjadi tahu, tidak mengerti menjadi mengerti, tidak bisa
menjadi bisa untuk mencapai hasil yang optimal. Belajar adalah salah satu komponen
untuk memperoleh pengetahuan melalui proses pendidikan.
Belajar juga bisa diartikan sebagai suatu usaha yang
dilakukan oleh setiap individu untuk memperoleh pengetahuan. Setiap individu
diwajibkan untuk melaksanakan proses belajar. Karena negara kita pun telah
mewajibkan untuk setiap warganya mengenyam proses belajar selama 9 tahun.
Bahkan, kewajiban belajar telah diatur oleh undang-undang
dasar negara kita. Hak untuk mendapatkn pendidikan pun telah diamanahkan secara
hukum dalam hak asasi manusia. Oleh karena itu, setiap warga negara harus
melaksanakan dan mendapatkan proses belajar.
Untuk melaksanakan suatu kegiatan secara baik, maka kita
terlebih dahulu harus mengetahui apa yang dimaksud dengan belajar dan apa yang
mendasari kegiatan tersebut.
Kegiatan akan berjalan dengan baik apabila ada teori yang
jelas yang mengaturnya, kemudian tidak lepas pula pengertian belajar yang harus
diketahui. Maka dari itu, penulisan ini bertujan untuk membahasa apa yang
dimaksud dengan belajar, teori belajar, dan hal-hal yang baik dan dapat
mendukung proses belajar.
B.
Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
a. Pembaca mengetahui pengertian belajar dan teori-teori yang
melandasinya,
b. Pembaca memperoleh dasar dan kepahaman menyeluruh tentang
belajar,
c. Pembaca mengetahui cara belajar yang baik,
d. Pembaca mengalami perubahan tingkah laku dan bisa
melaksanakan proses belajar secara utuh,
C.
Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalm makalah ini
adalah :
a. Apa yang dimaksud dengan belajar?
b. Apa
teori yang mendasari belajar?
c. Dimana
proses belajar yang baik dilaksanakan?
d. Kapan
waktu belajar yang baik?
e. Bagaimana
cara belajar yang baik?
f. Bagaimana
analisis SWOT tentang belajar?
BAB
II
ISI
A.
PENGERTIAN BELAJAR
Belajar
merupakan perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku
sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang di perkuat. Dalam lingkup
sekolah, belajar itu penting untuk meraih prestasi. Belajar adalah perubahan
yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari
pengalaman atau latihan yang diperkuat. Seseorang dianggap telah belajar
sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya.
Ada
beberapa pengertian belajar yang dikemukakan oleh para ahli diantaranya adalah
:
a.
Menurut teori behavioristik, belajar
adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara
stimulus dan respon.
b.
Menurut Watson, belajar adalah proses
interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud
harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observabel) dan dapat diukur.
c.
Depdiknas (2003) mendefinisikan
'belajar' sebagai proses membangun makna/pemahaman terhadap informasi dan/atau
pengalaman
d.
Menurut Ernest R. Hilgard dalam (Sumardi
Suryabrata, 1984:252) belajar merupakan proses
perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang kemudian menimbulkan perubahan,
yang keadaannya berbeda dari perubahan yang ditimbulkan oleh lainnya.
e.
Moh. Surya (1981:32), definisi belajar adalah suatu proses
usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku
yang baru keseluruhan
f.
Menurut Gagne dalam bukunya The Conditions of Learning
1977, belajar merupakan sejenis perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan
tingkah laku, yang keadaaannya berbeda dari sebelum individu berada dalam
situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang serupa itu
g.
Menurut Syah (2006), belajar adalah tahapan
perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil
pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.
h.
Menurut Jihad dan Haris (2008:1) belajar adalah
kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam
penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan, hal ini berarti keberhasilan
pencapaian tujuan pendidikan sangat tergantung pada keberhasilan proses belajar
siswa di sekolah dan lingkungan sekitarnya. Soemanto (1998:104) mengemukakan
definisi belajar menurut para ahli:
i.
Menurut James O. Wittaker, belajar dapat
didefinisikan sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah
melalui latihan atau pengalaman. ”Learning
may be defined as the process by which behavior originates or is altered
through training or experience.” (Whittaker,
1970:15). Dengan demikian, perubahan-perubahan tingkah laku akibat pertumbuhan
fisik atau kematangan, kelelahan, penyakit, atau pengaruh obat-obatan adalah
tidak termasuk sebagai belajar. Definisi yang tidak jauh berbeda dengan
definisi di atas, dikemukakan oleh Cronbach dalam bukunya yang berjudul ”Educational Psychology” sebagai berikut: ”Learning is shown by change in
behavior as a result of experience.” (Cronbach,
1954:47). Dengan demikian, belajar yang efektif adalah melalui pengalaman.
Dalam proses belajar, seseorang berinteraksi langsung dengan objek belajar
dengan menggunakan semua alat indranya. Satu definisi lagi yang perlu
dikemukakan di sini yaitu yang dikemukakan oleh Howard L. Kingsley sebagai
berikut: ”Learning is the
process by which behavior (in the broader sense) is originated or changed
through practice or training.”(Kingsley, 1957:12). (Belajar adalah proses
di mana tingkah laku (dalam artian luas) ditimbulkan atau diubah melaluipraktek
atau latihan).
j.
Menurut Skinner ( 1985 ) Memberikan
definisi belajar adalah “Learning is a process of progressive behavior
adaption”. Yaitu bahwa belajar itu merupakan suatu proses adaptasi perilaku
yang bersifat progresif.
k.
Menurut Mc. Beach ( Lih Bugelski 1956 ) Memberikan definisi mengenai belajar. “Learning
is a change performance as a result of practice”. Ini berarti bahwa belajar
membawa perubahan dalam performance, dan perubahan itu sebagai akibat dari
latihan ( practice ).
l.
Menurut Morgan, dkk ( 1984 ) memberikan definisi mengenai belajar “Learning
can be defined as any relatively permanent change in behavior which accurs as a
result of practice or experience.” Yaitu bahwa perubahan perilaku itu
sebagai akibat belajar karena latihan (practice) atau karena pengalaman (
experience ).
m.
Menurut Hilgarde dan Bower, dalam buku Theories
of Learning,(1975 )Mengemukakan belajar berhubungan dengan perubahan
tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh
pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah
laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respons pembawaan,
pematangan atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh
obat, dan sebagainya.
n.
Menurut Thursan Hakim, Belajar Secara Efektif ( 2005 ) belajar adalah suatu proses
perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan
dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti
peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan,
daya pikir, dan lain-lain kemampuan.
o.
Menurut Margaret
Gredler, 1994. Belajar adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan,
keterampilan, dan sikap. Sehingga peserta didik dapat mengetahui hal-hal yang
baru dan dapat meningkatkan pengetahuan yang dimilikinya, mengubah dari tidak
tahu menjadi tahu, dari yang salah menjadi benar, dan dari kurang baik menjadi
baik.
p.
Menurut Riberu, 1982. Belajar merupakan proses dan dalam proses ini orang berkenalan dengan salah
satu pola lajkuatau memperbaiki salah satu pola laku yang telah
dikuasainya. Belajar bisa berarti berkenalan dengan atau memperbaiki
pemikiran, berkenalan dengan atau memperbaiki turturan bicara, berkenalan
dengan atau memperbaiki tindakan/kegiatan.
q.
Menurut Skinner,
1985. Belajar merupakan hubungan antara stimulus dan respons yang tercipta
melalui proses tingkah laku yang bersifat progresif.
r.
Menurut Thursan
Hakim. Belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia,
dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan
kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap,
kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dan lain-lain kemampuan.
s.
Menurut Hilgarde
dan Bower. Mengemukakan belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku
seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya
yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak
dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respons pembawaan,pematangan atau
keadaan-keadaan sesaat seseorang misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan
sebagainya.
B.
TEORI BELAJAR
Teori
belajar merupakan upaya untuk mendeskripsikan bagaimana manusiabelajar,
sehingga membantu kita semua memahami proses inhern yang kompleks dari belajar.
Ada tiga perspektif utama dalam teori belajar, yaitu Behaviorisme,
Kognitivisme,dan Konstruktivisme. Pada dasarnya teori pertama dilengkapi oleh
teori kedua dan seterusnya, sehingga ada varian, gagasan utama, ataupun tokoh
yang tidak dapat dimasukkan dengan jelas termasuk yang mana, atau bahkan
menjadi teori tersendiri. Namun hal ini tidak perlu kita perdebatkan. Yang
lebih penting untuk kita pahami adalah teori mana yang baik untuk diterapkan
pada kawasan tertentu, dan teori mana yang sesuai untuk kawasan lainnya.
Pemahaman semacam ini penting untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.
a. Teori Behaviorisme
Behaviorisme
dari kata behave yang berarti berperilaku dan isme berarti aliran.
Behavorisme merupakan pendekatan dalam psikologi yang didasarkan atas proposisi
(gagasan awal) bahwa perilaku dapat dipelajari dan dijelaskan secara ilmiah.
Dalam melakukan penelitian, behavioris tidak mempelajari keadaan mental. Jadi,
karakteristik esensial dari pendekatan behaviorisme terhadap belajar adalah
pemahaman terhadap kejadian-kejadian di lingkungan untuk memprediksi perilaku
seseorang, bukan pikiran, perasaan, ataupun kejadian internal lain dalam diri
orang tersebut. Fokus behaviorisme adalah respons terhadap berbagai tipe
stimulus. Para tokoh yang memberikan pengaruh kuat pada aliran ini adalah Ivan
Pavlov dengan teorinya yang disebut classical conditioning, John B.
Watson yang dijuluki behavioris S-R (Stimulus-Respons), Edward Thorndike
(dengan teorinya Law of Efect), dan B.F. Skinner dengan teorinya yang
disebut operant conditioning.
1. Teori Pengkondisian Klasik Ivan Pavlov
Ivan Petrovich
Pavlov adalah orang Rusia. Ia menemukan Classical Conditioning di dekade
1890-an. Namun karena pada saat itu negerinya tertutup dari dunia barat, bukunya
dalam edisi bahasa Inggris Conditioned Reflexes: An Investigation of the
Physiological Activity of the Cerebral Cortex baru bisa diterbitkan tahun
1927. Teorinya disebut klasik karena kemudian muncul teori conditioning
yang lebih baru. Ada pula yang menyebut teorinya sebagai learned
reflexes atau refleks karena latihan, untuk membedakan teorinya
dengan teori pengkondisian disadari-nya Skinner.
a. Percobaan Pavlov
Pengkondisian
Klasik atau Classical conditioning ditemukan secara kebetulan oleh
Pavlov di dekade 1890-an. Saat itu Pavlov sedang mempelajari bagaimana air liur
membantu proses pencernaan makanan. Kegiatannya antara lain memberi makan
anjing eksperimen dan mengukur volume produksi air liur anjing tersebut di
waktu makan. Setelah anjing tersebut melalui prosedur yang sama beberapa kali,
ternyata mulai mengeluarkan air liur sebelum menerima makanan. Pavlov
menyimpulkan bahwa beberapa stimulus baru seperti pakaian peneliti yang serba
putih, telah diasosiasikan oleh anjing tersebut dengan makanan sehingga
menimbulkan respons keluarnya air liur.
Proses
conditioning biasanya mengikuti prosedur umum yang sama. Misalkanseorang pakar
psikologi ingin mengkondisikan seekor anjing untuk mengeluarkan air liur ketika
mendengar bunyi lonceng. Sebelum conditioning, stimulus tanpa pengkondisian
(makanan dalam mulut) secara otomatis menghasilkan respons tanpa pengkondisian
(mengeluarkan air liur) dari anjing tersebut. Selama pengkondisian, peneliti
membunyikan lonceng dan kemudian memberikan makanan pada anjing tersebut. Bunyi
lonceng tersebut disebut stimulus netral karena pada awalnya tidak menyebabkan
anjing tersebut mengeluarkan air liur. Namun, setelah peneliti mengulang-ulang
asosiasi bunyi lonceng-makanan, bunyi lonceng tanpa disertai makanan akhirnya
menyebabkan anjing tersebut mengeluarkan air liur. Anjing tersebut telah
belajar mengasosiasikan bunyi lonceng dengan makanan. Bunyi lonceng menjadi stimulus
dengan pengkondisian, dan keluarnya air liur anjing disebut respons
dengan pengkondisian.
b. Prinsip-prinsip Pengkondisian Klasik Pavlov
Menindaklanjuti
temuannya sebelumnya, Pavlov dan koleganya berhasil mengidentifikasi empat
proses: acquisition (akuisisi/fase dengan pengkondisian), extinction (eliminasi/fase
tanpa pengkondisian), generalization (generalisasi), dan discrimination
(diskriminasi).
1) Fase Akuisisi
Fase akuisisi
merupakan fase belajar permulaan dari respons kondisi—sebagai contoh, anjing
‘belajar’ mengeluarkan air liur karena pengkondisian suara lonceng. Beberapa
faktor dapat mempengaruhi kecepatan conditioning selama fase akuisisi. Faktor yang
paling penting adalah urutan dan waktu stimuli. Conditioning terjadi
paling cepat ketika stimulus kondisi (suara lonceng) mendahului stimulus utama
(makanan) dengan selang waktu setengah detik. Conditioning memerlukan
waktu lebih lama dan respons yang terjadi lebih lemah bila dilakukan penundaan
yang lama antara pemberian stimulus kondisi dengan stimulus utama. Jika
stimulus kondisi mengikuti stimulus utama—sebagai contoh, jika anjing menerima
makanan sebelum lonceng berbunyi—conditioning jarang terjadi.
2) Fase Eliminasi
Sekali telah
dipelajari, suatu respons dengan kondisi tidaklah diperlukan secara permanen.
Istilah extinction (eliminasi) digunakan untuk menjelaskan eliminasi
respons kondisi dengan mengulang-ulang stimulus kondisi tanpa stimulus utama.
Jika seekor anjing telah ‘belajar’ mengeluarkan air liur karena adanya suara
lonceng, peneliti dapat secara berangsur-angsur menghilangkan stimulus utama
dengan mengulang-ulang bunyi lonceng tanpa memberikan makanan sesudahnya.
3) Generalisasi
Setelah seekor
hewan telah ‘belajar’ respons kondisi dengan satu stimulus, ada kemungkinan
juga ia merespons stimuli yang sama tanpa latihan lanjutan. Jika seorang anak
digigit oleh seekor anjing hitam besar, anak tersebut bukan hanya takut kepada anjing
tersebut, namun juga takut kepada anjing yang lebih besar. Fenomena ini disebut
generalisasi. Stimuli yang kurang intens biasanya menyebabkan generalisasi yang
kurang intens. Sebagai contoh, anak tersebut ketakutannya menjadi berkurang
terhadap anjing yang lebih kecil.
4) Diskriminasi
Kebalikan dari
generalisasi adalah diskriminasi, yaitu ketika seorang individu belajar
menghasilkan respons kondisi pada satu stimulus namun tidak dari stimulus yang sama
namun kondisinya berbeda. Sebagai contoh, seorang anak memperlihatkan respons takut
pada anjing galak yang bebas, namun mungkin memperlihatkan rasa tidak takut ketika
seekor anjing galak diikat atau terkurung dalam kandang.
2. Teori Stimulus-Respons John Watson
Pada
tahun 1919, pakar psikologi berkebangsaan AS, J.B. Watson dalam bukunya Psychology
from the Standpoint of a Behaviorist mengkritisi metode introspektif dalam
pakar psikologi yaitu metode yang hanya memusatkan perhatian pada perilaku yang
ada atau berasal dari nilai-nilai dalam diri pakar psikologi itu sendiri.
Watson berprinsip hanya menggunakan eksperimen sebagai metode untuk mempelajari
kesadaran. Watson mempelajari penyesuaian organisme terhadap lingkungannya,
khususnya stimuli khusus yang menyebabkan organisme tersebut
memberikan
respons. Kebanyakan dari karya-karya Watson adalah komparatif yaitu
membandingkan
perilaku berbagai binatang. Karya-karyanya sangat dipengaruhi karya Ivan
Pavlov. Namun pendekatan Watson lebih menekankan pada peran stimuli dalam
menghasilkan respons karena pengkondisian, mengasimilasikan sebagian besar atau
seluruh fungsi dari refleks. Karena itulah, Watson dijuluki sebagai pakar
psikologi S – R (stimulus-response)
.
a. Percobaan John Watson
Pada dasarnya
Watson melanjutkan penelitian Pavlov. Dalam percobaannya, Watson ingin
menerapkan classical conditioning pada reaksi emosional. Hal ini
didasari atas keyakinannya bahwa personalitas seseorang berkembang melalui
pengkondisian berbagai refleks.
Dalam suatu
percobaan yang kontroversial di tahun 1921, Watson dan asisten risetnya Rosalie
Rayner melakukan eksperimen terhadap seorang balita bernama Albert. Pada awal
eksperimen, balita tersebut tidak takut terhadap tikus. Ketika balita memegang
tikus, Watson mengeluarkan suara dengan tiba-tiba dan keras. Balita menjadi
takut dengan suara yang tiba-tiba dan keras sekaligus takut terhadap tikus.
Akhirnya, tanpa ada suara keras sekalipun, balita menjadi takut terhadap tikus.
b. Kesimpulan Watson
Meskipun
eksperimen Watson dan rekannya secara etika dipertanyakan, hasilnya menunjukkan
untuk pertamakalinya bahwa manusia dapat ‘belajar’ takut terhadap stimuli yang
sesungguhnya tidak menakutkan. Namun ketika stimuli tersebut berasosiasi dengan
pengalaman yang tidak menyenangkan, ternyata menjadi menakutkan. Eksperimen
tersebut juga menunjukkan bahwa classical conditioning mengakibatkan
beberapa kasus fobia (rasa takut), yaitu ketakutan yang yang tidak rasional dan
berlebihan terhadap objek-objek tertentu atau situasi-situasi tertentu. Pakar
psikologi sekarang dapat memahami bahwa classical conditioning dapat
menjelaskan beberapa respons emosional —seperti kebahagiaan, kesukaan, kemarahan,
dan kecemasan—yaitu karena orang tersebut mengalami stimuli khusus. Sebagai
contoh, seorang anak yang memiliki pengalaman menyenangkan dengan roller
coaster kemungkinan belajar merasakan kesenangan justru karena melihat
bentuk roller coaster tersebut. Bagi seorang dewasa yang menemukan sepucuk
surat dari teman dekat di dalam kotak surat, hanya dengan melihat alamat
pengirim yang tertera di sampul surat kemungkinan menimbulkan perasaan senang
dan hangatnya persahabatan.
Pakar psikologi
menggunakan prosedur classical conditioning untuk merawat fobia (rasa
takut) dan perilaku yang tidak diinginkan lainnya seperti kecanduan alkohol dan
psikotropika. Untuk merawat fobia terhadap objek-objek tertentu, pakar
psikologi melakukan terapi dengan menghadirkan objek yang ditakuti oleh
penderita secara berangsur-angsur dan berulang-ulang ketika penderita dalam
suasana santai. Melalui fase eliminasi (eliminasi stimulus kondisi), penderita
akan kehilangan rasa takutnya terhadap objek tersebut. Dalam memberikan
perawatan untuk pecandu alkohol, penderita meminum minuman beralkohol dan
kemudian menenggak minuman keras tersebut sehingga menyebabkan rasa sakit di
lambung. Akhirnya ia merasakan sakit lambung begitu melihat atau mencium bau
alkohol dan berhenti meminumnya. Keefektivan dari terapi seperti ini sangat
bervariasi bergantung individunya dan problematika yang dihadapinya.
3. Hukum Efek dan Teori Koneksionisme Edward Thorndike
Edward
Lee Thorndike adalah pakar psikologi yang menjadi dosen di Columbia University
AS. Dalam bukunya Animal Intelligence (1911) ia menyatakan tidak suka pada
pendapat bahwa hewan memecahkan masalah dengan nalurinya. Ia justru berpendapat
bahwa hewan juga memliki kecerdasan. Beberapa eksperimennya ditujukan untuk
mendukung gagasannya tersebut, yang kemudian ternyata merupakan awal munculnya operant
conditioning (pengkondisian yang disadari). Prinsip yang dikembangkannya
disebut hukum efek karena adanya konsekuensi atau efek dari suatu perilaku.
Sementara, teorinya disebut koneksionisme untuk menunjukkan adanya koneksi
(keterkaitan) antara stimuli tertentu dan perilaku yang disadari.
a. Pecobaan Thorndike
Subjek riset
Thorndike termasuk kucing, anjing, ikan, kera, dan anak ayam. Untuk melihat
bagaimana hewan belajar perilaku yang baru, Thorndike menggunakan ruangan kecil
yang ia sebut puzzle box (kotak teka-teki), dan jika hewan itu melakukan
respons yang benar (seperti menarik tali, mendorong tuas, atau mendaki tangga),
pintu akan terbuka dan hewan tersebut akan diberi hadiah makanan yang
diletakkan tepat di luar kotak.
Ketika pertama
kali hewan memasuki kotak teka-teki, memerlukan waktu lama untuk dapat memberi
respons yang dibutuhkan agar pintu terbuka. Namun demikian, pada akhirnya hewan
tersebut dapat melakukan respons yang benar dan menerima hadiahnya: lolos dan
makanan.
Ketika Thorndike
memasukkan hewan yang sama ke kotak teka-teki secara berulang-ulang, hewan
tersebut akan melakukan respons yang benar semakin cepat. Dalam waktu singkat,
hewan-hewan tersebut hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk lolos dan
mendapatkan hadiah.
b. Kesimpulan Thorndike
Thorndike
menggunakan 'kurva waktu belajar' tersebut untuk membuktikan bahwa hewan
tersebut bukan menggunakan nalurinya untuk dapat lolos dan mendapatkan hadiah
dari kotak, namun melalui proses trial and error (mencoba-salah-mencoba
lagi sampai benar).
Thorndike
menjelaskan ada perbedaan yang jelas apakah hewan dalam eksperimen tersebut
agar dapat lolos dari kotak menggunakan naluri atau tidak. Caranya yaitu dengan
mencatat waktu yang digunakan hewan untuk dapat lolos. Logikanya, jika hewan
menggunakan naluri maka ia akan dapat langsung lolos begitu saja, sehingga catatan
waktunya tidak menunjukkan perubahan dari waktu ke waktu secara gradual yang signifikan.
Kenyataannya, hewan menggunakan cara yang biasa disebut trial and error dengan
bukti kurva waktu yang menurun secara gradual. Hal ini menunjukkan hewan dapat
'belajar' secara gradual dan konsisten. Didasarkan atas eksperimennya,
Thorndike mengemukakan prinsip yang ia sebut hukum efek. Hukum ini menyatakan
bahwa perilaku yang diikuti kejadian yang menyenangkan, lebih cenderung akan
terjadi lagi di masa mendatang. Sebaliknya, perilaku yang diikuti kejadian yang
tidak menyenangkan akan memperlemah, sehingga cenderung tidak terjadi lagi di
masa mendatang.
Thorndike
menginterpretasikan temuannya sebagai keterkaiatan. Ia menjelaskan bahwa
keterkaitan antara kotak dan gerakan yang digunakan hewan percobaan untuk lolos
'diperkuat' setiap kali berhasil. Karena adanya keterkaitan ini, banyak yang menyebut
hukum efek Thorndike menjadi teori koneksionisme, yang oleh Skinner dikembangkan
lagi menjadi operant conditioning (pengkondisian yang disadari).
b.
Teori Kognitivisme
Menjelang
berakhirnya tahun 1950-an banyak muncul kritik terhadap behaviorisme. Banyak
keterbatasan dari behaviorisme dalam menjelaskan berbagai masalah yang
berkaitan dengan belajar. Banyak pakar psikologi waktu itu yang berpendapat
behaviorisme terlalu fokus pada respons dari suatu stimulus dan perubahan
perilaku yang dapat diamati.
Kognitivis
mengalihkan perhatiannya pada “otak”. Mereka berpendapat bagaimana manusia
memproses dan menyimpan informasi sangat penting dalam proses belajar. Akhirnya
proposisi (gagasan awal) inilah yang menjadi fokus baru mereka. Kognitivisme
tidak seluruhnya menolak gagasan behaviorisme, namun lebih cenderung
perluasannya, khususnya pada gagasan eksistensi keadaan mental yang bisa
mempengaruhi proses belajar. Pakar psikologi kognitif modern berpendapat bahwa
belajar melibatkan proses mental yang kompleks, termasuk memori, perhatian,
bahasa, pembentukan konsep, dan pemecahan masalah. Mereka meneliti bagaimana
manusia memproses informasi dan membentuk representasi mental dari orang lain,
objek, dan kejadian.
1. Percobaan Tollman
Sesungguhnya,
pada tahun 1930 pakar psikologi AS Edward C. Tolman sudah meneliti proses
kognitif dalam belajar dengan penelitian eksperimen bagaimana tikus belajar
mencari jalan melintasi maze (teka-teki berupa jalan yang ruwet). Ia
menemukan bukti bahwa tikus-tikus percobaannya membentuk “peta kognitif” (atau
peta mental) bahkan pada awal eksperimen, namun tidak menampakakan hasil
belajarnya sampai mereka menerima penguatan untuk menyelesaikan jalannya
melintasi maze—suatu fenomena yang disebutnya latent learning atau
belajar latent. Eksperimen Tolman menunjukkan bahwa belajar adalah lebih dari
sekedar memperkuat respons melalui penguatan.
2. Jerome Bruner
Jerome Bruner
adalah guru besar di dua universitas terkemuka dunia yaitu Harvard (AS) dan
Oxford (Inggris). Yatim di usia 12 tahun dan keluarga yang sering pindah tidak
menghalanginya untuk berprestasi. Bruner memiliki peran besar dalam perubahan
arus utama psikologi dari behaviorisme ke kognitivisme pada dekade 1950-an dan
1960-an. Karya pentingnya yang secara eksplisit mengawali kognitivisme
diterbitkan tahun 1956, A Study in Thinking. Dalam bukunya tersebut
Bruner mendefinisikan proses kognitif sebagai “alat bagi organisme untuk
memperoleh, menyimpan, dan mentransformasi informasi.” Bruner juga pelopor
utama konstruktivisme.
Gagasan utama
Bruner didasarkan kategorisasi. "Memahami adalah kategorisasi,
konseptualisasi adalah kategorisasi, belajar adalah membentuk
kategori-kategori, membuat keputusan adalah kategorisasi." Bruner
berpendapat bahwa orang menginterpretasikan dunia melalui persamaannya dan
perbedaannya. Sebagaimana halnya Taksonomi Bloom, Bruner berpendapat tentang
adanya suatu sistem pengkodean di mana orang membentuk susunan hierarkhis dari
kategori-kategori yang saling berhubungan. Gagasannya yang disebut instructional
scaffolding (dukungan dalam pembelajaran) ini berupa hierarkhi kategori
berjenjang di mana semakin tinggi semakin spesifik, menyerupai gagasan Benjamin
Bloom tentang perolehan pengetahuan.
Bruner
mengemukakan ada dua mode utama dalam berpikir: naratif dan paradigmatik. Dalam
berpikir naratif, pikiran fokus pada berpikir yang sekuensial, berorientasi
pada kegiatan, dan dorongan berpikir secara rinci. Dalam berpikir paradigmatik,
pikiran melampaui kekhususan sehingga memperoleh pengetahuan yang sistematis
dan kategoris. Pada mode pertama, proses berpikir seperti halnya cerita atau
drama. Pada mode kedua, berpikir secara berstruktur seperti halnya
menghubungkan berbagai gagasan mendasar dengan cara yang logis. Dalam
penelitiannya terhadap perkembangan anak (1966), Bruner menelorkan gagasan
tentang tiga mode representasi: representasi enactive (berbasis
tindakan), representasi iconic (berbasis gambaran), dan representasi
simbolik (berbasis bahasa). Semua representasi mode tersebut tidak bisa
dijelaskan sebagai jenjang yang terpisah, namun terintegrasi dan hanya terpisah
secara sekuensial selagi "diterjemahkan" satu sama lain. Representasi
simbolik menjadi mode terakhir, karena yang paling misterius dari ketiganya.
Teori Bruner berpendapat adalah produktif ketika menghadapi materi baru dengan
mengikuti representasi secara progressif dari enactive ke iconic baru ke
simbolik; bahkan hal ini juga berlaku bagi pembelajar dewasa. Untuk para
perancang kegiatan pembelajaran, karya Bruner tersebut juga berpendapat bahwa
seorang pembelajar bahkan ketika masih belia sudah mampu mempelajari materi
dalam waktu lama apabila materi tersebut diorganisasi secara baik. Pendaapat
ini sangat berbeda dengan teori Piaget dan teoris tentang tahapan perkembangan
yang lain.
3.
Teori Noam Chomsky dalam Belajar Bahasa
Avram Noam
Chomsky adalah profesor emeritus bidang linguistik di Massachusetts Institute
of Technology (MIT). Ia mengawali revolusi kognitif dalam psikologi di tahun
1959 dengan menulis "A Review of B. F. Skinner's Verbal Behavior" di
jurnal Language. Buku Skinner yang direview Chomsky berjudul Verbal
behavior tersebut terbit tahun 1957. Chomsky menganggap terjadi kesalahan
dalam bagian tulisan Skinner tentang perkembangan bahasa seseorang. Chomsky
mengemukakan bahwa anak-anak di seluruh dunia mulai belajar berbicara rata-rata
pada usia yang sama dan berkembang melalaui tahapan-tahapan yang rata-rata sama
pula meskipun tanpa secara eksplisit diajar atau diberi hadiah untuk upayanya
tersebut. Menurut Chomsky, kapasitas manusia untuk belajar bahasa adalah
bawaan. Ia memiliki teori bahwa otak manusia memiliki “hardware” untuk bahasa
sebagai hasil dari evolusi. Dengan menunjuk fungsi vital disposisi biologis
dalam perkembangan bahasa, teori Chomsky memukul secara telak asumsi behavioris
bahwa semua perilaku manusia dibentuk dan dipertahankan melalui reinforcement
(penguatan).
Dalam meneliti
belajar bahasa, Chomsky fokus pada pertanyaan-pertanyaan tentang cara kerja dan
perkembangan struktur internal bawaan untuk sintaksis yang mampu secara kreatif
mengorganisasi, menyatukan, menyesuaikan, dan mengkombinasikan kata-kata dan
frase-frase menjadi tutur yang dapat dipahami. Dalam reviewnya Chomsky
menekankan bahwa penerapan ilmiah prinsip-prinsip behaviorisme dari penelitian
terhadap hewan sangat kurang memadai dalam memberikan penjelasan tentang
perilaku verbal manusia karena teori tersebut membatasi diri terhadap kondisi
eksternal. Meneliti "apa yang dipelajari" saja tidak memadai untuk
menjelaskan tata bahasa generatif. Chomsky menekankan contoh-contoh perolehan
bahasa yang cepat oleh anak-anak, termasuk cepat berkembangnya kemampuan untuk
membentuk kalimat yang sesuai tata bahasa. Chomsky memiliki prinsip bahwa untuk
memahami perilaku verbal manusia seperti aspek-aspek kreatif dari penggunaan
dan pengembangan bahasa, seseorang harus pertama-tama menerima postulat (dalil)
adanya genetika yang membawa kemampuan linguistik.
4. Teori
Piaget
Piaget profesor
psikologi di Universitas Jenewa, Swiss. Teorinya tentang perkembangan kognitif
anak (dibahas pada bab tersendiri) merupakan salah satu tonggak munculnya
kognitivisme. Perkembangan kognitif merupakan pertumbuhan logika berpikir dari
bayi sampai dewasa.
Piaget memiliki
asumsi dasar kecerdasan manusia dan biologi organisme berfungsi dengan cara
yang sama. Keduanya adalah sistem terorganisasi yang secara konstan
berinteraksi dengan lingkungan. Pengetahuan merupakan interaksi antara individu
dengan lingkungan. Outcome dari perkembangan kognitif adalah konstruksi dari schema
kegiatan, operasi konkret dan operasi formal. Komponen perkembangan
kognitif adalah asimilasi dan akomodasi, yang diatur secara seimbang.
Memfasilitasi berpikir logis melalui ekperimentasi dengan objek nyata, yang
didukung boleh interaksi antara peer dan guru. (Schema adalah struktur
terorganisasi yang merefleksikan pengetahuan, pengalaman, dan harapan dari
individu terhadap berbagai aspek dunia nyata). Sebagaimana Bruner, Piaget juga
memelopori lahirnya konstruktivisme.
5. Teori Vygotsky
Lev Vygotsky
adalah pakar psikologi lulusan Insitut Psikologi Moskow, Uni Soviet (sekarang
Rusia). Meninggal pada tahun 1930-an di usia relatif muda (40 tahun) karena penyakit
TBC, ia meninggalkan banyak karya yang banyak dieksplorasi orang hingga kini.
Dalam masa karir
akademiknya yang singkat, Vygotsky aktif di sejumlah bidang akademik, termasuk
analisis psikologis dalam seni dan cerita rakyat; psikologi anak yang meliputi
masalah anak-anak tuna rungu dan tuna grahita; dan analisis psikologis untuk orang
dewasa penderita kerusakan otak. Karya utamanya antara lain Thought and Language
(1937), Selected Psychological Studies (1956), dan Development of
the Higher Mental Processes (1960).
Karyanya dalam
bidang perkembangan bahasa dan linguistik didasarkan atas hipotesisnya bahwa
proses kognitif tingkat tinggi merupakan hasil dari perkembangan sosial. Semula
penganut teori Pavlov, Vygotsky berbalik menentangnya karena ia berpendapat
bahwa stimulus dan respons saja tidak cukup untuk menjelaskan tentang realitas
aktivitas manusia. Aktivitas yang dilakukan manusia membutuhkan 'mediator' ekstra
melalui alat atau bahasa. Dengan menggunakan alat kita dapat melakukan kegiatan
di lingkungan fisik dan dengan bahasa kita dapat melakukan kegiatan di
lingkungan konseptual dan sosial sehingga dapat melakukan perubahan. Dengan
demikian Vygotsky membedakan secara fundamental antara kegiatan berbasis
stimulus-respons, alat dan bahasa. Ia juga berpendapat bahwa ada perbedaan
antara konsep dan bahasa ketika seseorang masih belia, tetapi sejalan dengan
perjalanan waktu, keduanya akan menyatu. Bahasa mengekspresikan konsep, dan
konsep digunakan dalam bahasa. Dari awal risetnya tentang aturan dan perilaku
tentang perkembangan penggunaan alat dan penggunaan tanda, Vygotsky berpaling
ke proses simbolik dalam bahasa. Ia fokus pada struktur semantik dari kata-kata
dan cara bagaaimana arti kata-kata berubah dari emosional ke konkret sebelum
menjadi lebih abstrak.
Karya-karya
Vygotsky antara 1920-1930 memberikan penekanan bagaimana interaksi anak-anak
dengan orang dewasa berkontribusi dalam pengembangan berbagai keterampilan.
Menurut Vygotsky, orang dewasa yang sensitif akan peduli terhadap kesiapan anak
untuk tantangan baru, sehingga mereka dapat menyusun kegiatan yang cocok untuk
mengembangkan keterampilan baru. Orang dewasa berperan sebagai mentor dan guru,
mengarahkan anak ke dalam zone of proximal development—istilah dari Vygotsky
yang berarti suatu zone perkembangan di mana anak tidak mampu melakukan suatu
kegiatan belajar tanpa bantuan namun dapat melakukannya secara baik di bawah bimbingan
orang dewasa. Orang tua mungkin bisa mengajar konsep-konsep angka yang sederhana,
sebagai misal, dengan menghitung manik-manik bersama anak atau menghitung
mengukur bahan-bahan ketika memasak dengan menggunakan takaran. Ketika
anak-anak berpartisipasi dalam kegiatan sehari-hari seperti ini dengan orang
tua, guru, dan orang lain, mereka akan secara bertahap mempelajari praktik
buadaya, nilainilai, ketrampilan.
c.
Teori Humanistik
Dihadapkan pada
dua pilihan antara behaviorisme dan psikoanalisis yang termasuk kognitivisme
banyak pakar psikologi di era tahun 1950-an dan 1960-an yang memilih ke
alternatif konsepsi psikologis sifat dasar manusia. Freud telah memusatkan
perhatian pada kekuatan sisi gelap ketidaksadaran, dan Skinner hanya tertarik
pada pengaruh penguatan dari perilaku yang dapat diamati. Lahirlah Psikologi
Humanistik untuk menjawab berbagai pertanyaan tentang kesadaran pikiran,
kebebasan kemauan, martabat manusia, kemampuan untuk berkembang dan kapasitas
refleksi diri. Karena menjadi alternatif terhadap behaviorismedan kognitivisme,
Psikologi humanistik atau humanisme menjadi lebih terkenal sebagai “kekuatan
ketiga.” Humanisme dipelopori oleh pakar psikologi Carl Rogers dan Abraham
Maslow.
Menurut Rogers,
semua manusia yang lahir sudah membawa dorongan untuk meraih sepenuhnya apa
yang diinginkan dan berperilaku dalam cara yang konsisten menurut diri mereka
sendiri. Rogers, seorang psikoterapis, mengembangkan person-centered
therapy, suatu pendekatan yang tidak bersifat menilai ataupun tidak memberi
arahan yang membantu klien mengklarifikasi dirinya tentang siapa dirinya
sebagai suatu upaya fasilitasi proses memperbaiki kondisinya. Hampir pada saat
yang bersamaan, Maslow mengemukakan teorinya bahwa semua orang memiliki
motivasi untuk memenuhi kebutuhannya yang bersifat hierarkhis. Pada bagian
paling bawah dari hirarkhi ini adalah kebutuhan-kebutuhan fisikal seperti rasa
lapar, haus, dan mengantuk. Di atasnya adalah kebutuhan akan rasa aman,
kebutuhan akan rasa memiliki dan cinta, dan kepercayaan diri yang berkaitan
dengan kebutuhan akan status dan pencapaian. Ketika berbagai kebutuhan ini
terpenuhi, Maslow yakin, orang akan meraih aktualisasi diri, suatu
puncak pemenuhan kebutuhan dari seseorang. Sebagaimana kata Maslow, “Seorang
musisi haruslah mencipta lagu, seorang pelukis harus melukis, seorang penyair
harus menulis puisi, jika ia ingin damai dengan dirinya. Apa yang ia mampu
lakukan, ia harus lakukan.”
Gagasan
lain dari humanisme dapat diringkas sebagai berikut:
1.
Setiap orang memiliki kapasitas untuk berkembang.
2.
Setiap orang memiliki kebebasan untuk memilih tujuan hidupnya.
3.
Humanisme menekankan pentingnya kualitas hidup manusia.
4.
Setiap orang memiliki kemampuan untuk memperbaiki kehidupannya.
5.
Persepsi pribadi seseorang terhadap dirinya sendiri lebih penting dari
lingkungan.
6.
Setiap orang memiliki potensi untuk memahami dirinya sendiri.
7.
Setiap orang seharusnya memberikan dukungan pada orang lain sehingga semua
memiliki citra
diri yang positif serta pemahaman diri yang baik.
8. Carl Rogers menekankan pentingnya
suasana lingkungan yang hangat dan bisa
menjadi terapi.
9.
Abraham Maslow berpendapat bahwa potensi kita sesunggahnya tidak terbatas.
10.
Terjadinya kebersamaan disebabkan adanya persepsi positif satu sama lain.
11. Rogers berpendapat bahwa seseorang
akan tidak mempercayai hal-hal positif dari dirinya dan rasa percaya dirinya
rendah bila ada anggapan positif orang lain namun bersyarat.
12. Konsep-diri adalah bagaimana
seseorang mengenal potensinya, perilakunya, dan kepribadiannya.
13. Realita adalah bagaimana
sesungguhnya diri seseorang sedangkan idealisme adalah bagaimana seseorang
menginginkan dirinya menjadi apa.
14. Anggapan positif tanpa syarat, ketulusan
dan empati membantu memperbaiki
hubungan seseorang dengan orang lain.
15. Seseorang akan bermanfaat bagi orang
lain apabila terbuka terhadap pengalaman, tidak terlalu mementingkan diri,
peduli pada sekitarnya, dan memiliki hubungan yang harmonis dengan orang lain.
16. Aktualisasi diri adalah dorongan
untuk mengembangkan potensi secara penuh sebagai manusia dari diri seseorang.
Salah satu kritikus terhadap humanisme mengatakan adalah sulit untuk mengukur
aktualisasi diri. Ada juga yang berpendapat humanisme terlalu optimis dalam
memandang manusia. Yang lain lagi mengatakan humanisme membangkitkan rasa
kekaguman pada diri sendiri.
d.
Teori
Konstruktivisme
Konstruktivisme
memandang belajar sebagai proses di mana pembelajar secara aktif mengkonstruksi
atau membangun gagasan-gagasan atau konsep-konsep baru didasarkan atas
pengetahuan yang telah dimiliki di masa lalu atau ada pada saat itu. Dengan
kata lain, ”belajar melibatkan konstruksi pengetahuan seseorang dari
pengalamannya sendiri oleh dirinya sendiri”.
Dengan demikian,
belajar menurut konstruktivis merupakan upaya keras yang sangat personal,
sedangkan internalisasi konsep, hukum, dan prinsip-prinsip umum sebagai
konsekuensinya seharusnya diaplikasikan dalam konteks dunia nyata. Guru
bertindak sebagai fasilitator yang meyakinkan siswa untuk menemukan sendiri
prinsip-prinsip dan mengkonstruksi pengetahuan dengan memecahkan
problem-problem yang realstis. Konstruktivisme juga dikenal sebagai konstruksi
pengetahuan sebagai suatu proses sosial. Kita dapat melakukan klarifikasi dan
mengorganisasi gagasan mereka sehingga kita dapat menyuarakan aspirasi mereka.
Hal ini akan memberi kesempatan kepada kita mengelaborasi apa yang mereka
pelajari. Kita menjadi terbuka terhadap pandangan orang lain Hal ini juga
memungkinkan kita menemukan kejanggalan dan inkonsistensi karena dengan belajar
kita bisa mendapatkan hasil terbaik. Konstruktivisme dengan sendirinya memiliki
banyak variasi, seperti Generative Learning, Discovery Learning, dan knowledge
building. Mengabaikan variasi yang ada, konstruktivisme membangkitkan
kebebasan eksplorasi siswa dalam suatu kerangka atau struktur.
Dalam sidut
pandang laiinya. konstruktivisme merupakan seperangkat asumsi tentang keadaan
alami belajar dari manusia yang membimbing para konstruktivis mempelajari teori
metode mengajar dalam pendidikan. Nilai-nilai konstruktivisme berkembang dalam
pembelajaran yang didukung oleh guru secara memadai berdasarkan inisiatif dan
arahan dari siswa sendiri. Ada istilah lain yang sering disalahartikan sama
dengan konstruktivisme, yaitu maturationisme. Konstruktivisme (yang merupakan
perkembangan kognitif) merupakan suatu aliran yang "yang didasarkan pada
gagasan bahwa proses dialektika atau interaksi dari perkembangan dan
pembelajaran melalui konstruksi aktif dari siswa sendiri yang difasilitasi dan
dipromosikan oleh orang dewasa " Sedangkan, "Aliran maturationisme
romantik didasarkan pada gagasan bahwa perkembangan alami siswa dapat terjadi
tanpa intervensi orang dewasa dalam lingkungan yang penuh kebebasan "
(DeVries et al.,2002).
Salah
satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar
konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget yang merupakan bagian
dari teori kognitif juga. Teori ini biasa juga disebut teori perkembangan
intelektual atau teori perkembangan kognitif. Teori belajar tersebut berkenaan
dengan kesiapan anak untuk belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan
intelektual dari lahir hingga dewasa. Setiap tahap perkembangan intelektual
yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu
pengetahuan. Misalnya, pada tahap sensori motor anak berpikir melalui gerakan
atau perbuatan (Ruseffendi, 1988: 132).
Selanjutnya,
Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar, 1989: 159) menegaskan
bahwa penekanan teori kontruktivisme pada proses untuk menemukan teori atau
pengetahuan yang dibangun dari realitas lapangan. Peran guru dalam pembelajaran
menurut teori kontruktivisme adalah sebagai fasilitator atau moderator.
Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih mutakhir yang
dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu
pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan
akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya. Asimilasi adalah
penyerapan informasi baru dalam pikiran. Sedangkan, akomodasi adalah menyusun
kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru, sehingga informasi
tersebut mempunyai tempat (Ruseffendi 1988: 133). Pengertian tentang akomodasi yang lain adalah proses mental
yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan ransangan baru atau
memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu
(Suparno, 1996: 7).
Lebih
jauh Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh
seseorang, melainkan melalui tindakan. Belajar merupakan proses untuk membangun
penghayatan terhadap suatu materi yang disampaikan. Bahkan, perkembangan
kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan
berinteraksi dengan lingkungannya. Sedangkan, perkembangan kognitif itu sendiri
merupakan proses berkesinambungan tentang keadaan ketidak-seimbangan dan keadaan
keseimbangan (Poedjiadi, 1999: 61).
Dari
pandangan Piaget tentang tahap perkembangan kognitif anak dapat dipahami bahwa
pada tahap tertentu cara maupun kemampuan anak mengkonstruksi ilmu berbeda-beda
berdasarkan kematangan intelektual anak. Pada teori ini konsekuensinya dalah
siswa harus memiliki ketrampilan unutk menyesuaikan diri atau adaptasi secara
tepat. Menurut C. Asri Budiningsih menjelaskan bahwa ada dua macam proses
adapatasi yaitu adaptasi bersifat autoplastis, yaitu proses penyesuaian diri dengan cara mengubah
diri sesuai suasana lingkungan, lalu adaptasi yang bersifat aloplastis yaitu
adaptasi dengan mengubah situasi lingkungan sesuai dengan keinginan diri
sendiri.
Berkaitan
dengan anak dan lingkungan belajarnya menurut pandangan konstruktivisme, Driver
dan Bell (dalam Susan, Marilyn dan Tony, 1995: 222) mengajukan karakteristik
sebagai berikut: (1) siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan
memiliki tujuan, (2) belajar mempertimbangkan seoptimal mungkin proses
keterlibatan siswa, (3) pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar
melainkan dikonstruksi secara personal, (4) pembelajaran bukanlah transmisi
pengetahuan, melainkan melibatkan pengaturan situasi kelas, (5) kurikulum
bukanlah sekedar dipelajari, melainkan seperangkat pembelajaran, materi, dan
sumber. Belajar merupakan proses aktif untuk mengembangkan skema sehingga
pengetahuan terkait bagaikan jaring laba-laba dan bukan sekedar tersusun secara
hirarkis (Hudoyo, 1998: 5).
Dari
pengertian di atas, dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang
berlangsung secara interaktif antara faktor intern pada diri pebelajar dengan
faktor ekstern atau lingkungan, sehingga melahirkan perubahan tingkah laku.
Berikut
adalah tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya dengan tahap perkembangan
intelektual atau tahap perkembangan kognitif atau biasa juga disebut tahap
perkembagan mental. Ruseffendi (1988: 133) mengemukakan; (1) perkembangan
intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan
urutan yang sama. Maksudnya, setiap manusia akan mengalami urutan-urutan
tersebut dan dengan urutan yang sama, (2) tahap-tahap tersebut didefinisikan
sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan,
pengekalan, pengelompokan, pembuatan hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang
menunjukkan adanya tingkah laku intelektual dan (3) gerak melalui tahap-tahap
tersebut dilengkapi oleh keseimbangan (equilibration),
proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman
(asimilasi) dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi).
Berbeda
dengan kontruktivisme kognitif ala Piaget, konstruktivisme sosial yang
dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam
interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik. Penemuan atau discovery dalam belajar lebih mudah diperoleh
dalam konteks sosial budaya seseorang (Poedjiadi, 1999: 62). Dalam penjelasan
lain Tanjung (1998: 7) mengatakan bahwa inti konstruktivis Vigotsky adalah
interaksi antara aspek internal dan ekternal yang penekanannya pada lingkungan sosial
dalam belajar.
Adapun
implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan anak (Poedjiadi,
1999: 63) adalah sebagai berikut: (1) tujuan pendidikan menurut teori belajar
konstruktivisme adalah menghasilkan individu atau
anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang
dihadapi, (2) kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang
memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta
didik. Selain itu, latihan memcahkan masalah seringkali dilakukan melalui
belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari dan
(3) peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang
sesuai bagi dirinya. Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitor, dan
teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi
pengetahuan pada diri peserta didik.
A. Pembelajaran
Menurut Teori Belajar Konstruktivisme
Sebagaimana
telah dikemukakan bahwa menurut teori belajar konstruktivisme, pengetahuan
tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa.
Artinya, bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur
pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Dengan kata
lain, siswa tidak diharapkan sebagai botol-botol kecil yang siap diisi dengan
berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak guru.
Sehubungan
dengan hal di atas, Tasker (1992: 30) mengemukakan tiga penekanan dalam teori
belajar konstruktivisme sebagai berikut. Pertama adalah peran aktif siswa dalam
mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna. Kedua adalah pentingnya membuat
kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna. Ketiga adalah
mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima.
Wheatley
(1991: 12) mendukung pendapat di atas dengan mengajukan dua prinsip utama dalam
pembelajaran dengan teori belajar konstrukltivisme. Pertama, pengetahuan tidak
dapat diperoleh secara pasif, tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa.
Kedua, fungsi kognisi bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui
pengalaman nyata yang dimiliki anak.
Kedua
pengertian di atas menekankan bagaimana pentingnya keterlibatan anak secara
aktif dalam proses pengaitan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu
pengetahuan melalui lingkungannya. Bahkan secara spesifik Hudoyo (1990: 4)
mengatakan bahwa seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar
itu didasari pada apa yang telah diketahui orang lain. Oleh karena itu, untuk
mempelajari suatu materi yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang
akan mempengaruhi terjadinya proses belajar tersebut.
Selain
penekanan dan tahap-tahap tertentu yang perlu diperhatikan dalam teori belajar
konstruktivisme, Hanbury (1996: 3) mengemukakan sejumlah aspek dalam kaitannya
dengan pembelajaran, yaitu (1) siswa mengkonstruksi pengetahuan dengan cara
mengintegrasikan ide yang mereka miliki, (2) pembelajaran menjadi lebih
bermakna karena siswa mengerti, (3) strategi siswa lebih bernilai, dan (4)
siswa mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan
ilmu pengetahuan dengan temannya.
Dalam
upaya mengimplementasikan teori belajar konstruktivisme, Tytler (1996: 20)
mengajukan beberapa saran yang berkaitan dengan rancangan pembelajaran, sebagai
berikut: (1) memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya
dengan bahasa sendiri, (2) memberi kesempatan kepada siswa untuk berfikir
tentang pengalamannya sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif, (3)
memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru, (4) memberi
pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa, (5)
mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka, dan (6) menciptakan
lingkungan belajar yang kondusif. Selain itu Slavin menyebutkan
strategi-strategi belajar pada teori kontruktivisme adalahtop-down
processing( siswa belajar dimulai dengan masalah yang kompleks untuk
dipecahkan, kemudian menemukan ketrampilan yang dibutuhkan, cooperative learning(strategi
yang digunakan untuk proses belajar, agar siswa lebih mudah dalam menghadapi
problem yang dihadapi dan generative
learning(strategi yang menekankan pada integrasi yang aktif antara materi
atau pengetahuan yang baru diperoleh dengan skemata.
Dari
beberapa pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang mengacu
kepada teori belajar konstruktivisme lebih menfokuskan pada kesuksesan siswa
dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. Bukan kepatuhan siswa dalam refleksi
atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Dengan kata lain,
siswa lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui
asimilasi dan akomodasi.
Berdasarkan
hasil analisis Akhmad Sudrajat terhadap sejumlah kriteria dan pendapat sejumlah
ahli, Widodo, (2004) menyimpulkan tentang lima unsur penting dalam lingkungan
pembelajaran yang konstruktivis, yaitu:
1. Memperhatikan dan memanfaatkan
pengetahuan awal siswa
Kegiatan
pembelajaran ditujukan untuk membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan.
Siswa didorong untuk mengkonstruksi pengetahuan baru dengan memanfaatkan
pengetahuan awal yang telah dimilikinya. Oleh karena itu pembelajaran harus
memperhatikan pengetahuan awal siswa dan memanfaatkan teknik-teknik untuk
mendorong agar terjadi perubahan konsepsi pada diri siswa.
2. Pengalaman belajar yang autentik
dan bermakna
Segala
kegiatan yang dilakukan di dalam pembelajaran dirancang sedemikian rupa
sehingga bermakna bagi siswa. Oleh karena itu minat, sikap, dan kebutuhan
belajar siswa benar-benar dijadikan bahan pertimbangan dalam merancang dan
melakukan pembelajaran. Hal ini dapat terlihat dari usaha-usaha untuk
mengaitkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari, penggunaan sumber daya dari
kehidupan sehari-hari, dan juga penerapan konsep.
3. Adanya lingkungan sosial yang
kondusif,
Siswa
diberi kesempatan untuk bisa berinteraksi secara produktif dengan sesama siswa
maupun dengan guru. Selain itu juga ada kesempatan bagi siswa untuk bekerja
dalam berbagai konteks sosial.
4. Adanya dorongan agar siswa bisa
mandiri
Siswa
didorong untuk bisa bertanggung jawab terhadap proses belajarnya. Oleh karena
itu siswa dilatih dan diberi kesempatan untuk melakukan refleksi dan mengatur
kegiatan belajarnya.
5. Adanya usaha untuk mengenalkan
siswa tentang dunia ilmiah.
Sains
bukan hanya produk (fakta, konsep, prinsip, teori), namun juga mencakup proses
dan sikap. Oleh karena itu pembelajaran sains juga harus bisa melatih dan
memperkenalkan siswa tentang “kehidupan” ilmuwan.
Pembelajaran
kontruktuvisme merupakan pembelajaran yang cukup baik dimana siswa dalam
pembelajaran terjun langsung tidak hanya menerima pelajaran yang pasti seperti
pembelajaran bihavioristik. Misalnya saja pada pelajaran pkn, tentang tolong
menolong dan siswa di tugaskan untuk terjun langsung dan terlibat mengamati
suatu lingkungan bagaimana sikap tolong menolong terbangun. Dan setelah itu guru
memberi pengarahan yang lebih lanjut. Siswa lebih mamahami makna ketimbang
konsep
· Kesimpulan
Jadi
teori kontruktivisme adalah sebagai pembelajaran yang
bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang
dipelajari. Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan
dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget
yang merupakan bagian dari teori kognitif juga. Piaget menegaskan bahwa
penekanan teori kontruktivisme pada proses untuk menemukan teori atau
pengetahuan yang dibangun dari realitas lapangan. Peran guru dalam pembelajaran
menurut teori kontruktivisme adalah sebagai fasilitator atau moderator.
Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih mutakhir yang
dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu
pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan
akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya.
Berbeda
dengan kontruktivisme kognitif ala Piaget, konstruktivisme sosial yang
dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam
interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik. bahwa pembelajaran yang
mengacu kepada teori belajar konstruktivisme lebih menfokuskan pada kesuksesan
siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. Bukan kepatuhan siswa dalam
refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru
C.
CARA BELAJAR YANG BAIK
1. Ciptakan suasana yang
kondusif
Dalam belajar, kamu harus menciptakan
suasana yang kondusif, nyaman dan tenang untuk belajar. Cara ini
merupakan salah satu cara belajar yang baik karena bagaimanapun jika ingin
materi yang kamu pelajari itu bener-bener masuk ke otakmu, kamu harus tenang
dan dalam keadaan yang nyaman. Sehingga nggak mengganggu konsentrasi. Belajar
di luar ruangan mungkin adalah pilihan yang cukup baik, karena selain lebih fresh,
kita juga bisa lebih tenang dan nggak penat dalam belajar.
2.
Lihat garis besarnya dahulu
Tips cara belajar yang baik dengan melihat garis besar materi.
Jika membaca bahan pelajaran yang baru, jangan langsung menceburkan diri
kedalamnya. Kamu bisa lebih meningkatkan pemahaman bila melihat sepintas garis
besarnya. Lihatlah semua subjudul, keterangan gambar dan ringkasan yang ada.
Jik membaca bacaan yang cukup panjang, maka bacalah dahulu kalimat pertama dari
setiap paragrafnya.
3.
Buatlah catatan intisari dari
bahan pelajaran
Tips cara belajar dengan teknik
meringkas intisari dari pelajaran. Kalau kamu meringkas materi dari setiap
bahan pelajaran ke dalam sebuah catatan kecil, maka akan sangat membantumu
mengingat bahan pelajaran itu. Pada saat kamu menulisnya, kamu pasti membaca
materinya lagi, bener kan? Itu akan membuatmu cepat hafal materinya. Sebaiknya
catatan itu ditulis kedalam buku kecil atau kertas yang bisa dibawa
kemana-mana, sehingga bisa dibaca kapan dan dimanapun kamu berada.
4. Berlatihlah tehnik kemampuan mengingat
Cara Belajar Yang Baik dengan
teknik kemampuan mengingat. Agar lebih mudah kamu ingat sebaiknya materi yang akan kamu hafal
itu diubah menjadi sebuah singkatan atau kata kunci (Mnemonics) dengan formulasi yang mudah diingat-ingat. Seperti MeJiKuHiBiNiU
untuk singkatan-singkatan dari warna pelangi, yaitu Merah, Jingga, Kuning,
Hijau, Biru, Nila dan Ungu. Walaupun kamu jika menghafal langsung dalam 1
minggu sudah lupa, dengan menggunakan mnemonics seperti ini kamu bisa ingat sampai puluhan tahun lamanya.
5. Belajarlah dengan tekun dan
rutin.
Tips cara belajar yang baik dan paling ampuh adalah dengan tekun
dan rutin. Belajar tepat waktu dan serius juga sangat berpengaruh dalam
peningkatan prestasi belajar, apabila kamu jarang belajar maupun hanya
belajar jika akan ada ulangan pasti prestasinya gak akan maksimal. Jadi
belajarlah dengan tekun dan rutin selagi ada waktu untuk belajar. Juga jangan
belajar dengan tergesa-gesa pada hari terakhir sebelum ulangan, cara belajar
yang baik seperti itu hasilnya juga nggak akan maksimal.
D.
WAKTU BELAJAR YANG BAIK
Secara umum waktu belajar yang baik
bisa dilakukan kapan saja, tergantung kebutuhan kita. Namun, berkaitan dengan
waktu belajar ini juga berkaitan dengan kebiasaan setiap orang untuk belajar
itu sendiri. Adapu waktu belajar yang baik dan disarankan adalah :
1.
Sehabis shalat subuh
Kebanyakan orang memilih waktu subuh
sebagai waktu untuk belajar. Banyak alasan yang mendasari bahwa waktu subuh
adalah waktu terbaik untuk belajar. Selain ketenangan yang dijamin pada waktu
subuh, juga diyakini bahwa waktu subuh keadaan kita masih sangat segar.
Sehingga kemampuan otak untuk menerima materi pembelajaran akan lebih baik.
2.
Malam hari
Selain subuh, malam hari juga menjadi
waktu favorit untuk belajar. Hal ini berkaitan dengan kebiasaan setipa orang
untuk menuangkan waktunya untuk belajar. Malam hari, dijadikan sebagai waktu
belajar dikarenakan suasananya yang ukup tenang dan mendukung, selain itu,
belajar malam hari ini menjadi solusi bagi orang yang mengalami masalah untuk
bangun pagi.
3.
Tengah malam
Waktu belajar yang baik selanjutnya
adalah tengah malam. Jika ditinjau dari segi ketenangan tengah malam memang
sangat mendukung. Karena pada waktu tersebut kebanyakan orang sudah tidur
terlelap. Namun, waktu belajar ini kembali lagi kepada kebiasaan kita
masing-masing. Waktu belajar ditengah malam ini akan terasa sulit bagi
seseorang yang jarang melakukannya.
E.
TEMPAT BELAJAR YANG BAIK
Sebenarnya, semua temapat bisa dikategorikan sebagai
tempat belajar yang baik. Semua kembali lagi kepada kebiasaan individu
masing-maing dalam melakukan kegiatan belajar ini. Beberapa tempat yang menjadi
pilihan sebagai tempat belajar yang baik adalah :
1. Perpustakaan
Sebagian besar orang, akan lebih meilih perpustakaan
sebagai tempat belajar mereka. Karena selain menjamin ketengan, perpustakaan
juga menyediakan banyak sumber media untuk belajar terutama buku.
2. Taman
Kebanyakan orang, meilih taman sebagai tempat
belajar mereka untuk berbagai macam alasan, seperti mudah mengingat dan
lain-lain.
3. Kamar
tidur
Kamar tidur juga menjadi tempat yang cukup baik
dalam belajar. Intinya belajar akan terasa baik jika kita merasa bahwa kita
telah melakukannya dengan baik pula. Dimanapun itu, asalkan kita merasa nyaman
dan kondusif, kita bisa melakukan proses belajar.
F.
ANALISIS SWOT BELAJAR
1. S
(Strength)
Strength
diartikan sebagai kekuatan. Jadi, jika ditinjau dari segi kekuatannya, belajar
memiliki kekuatan dan manfaat yang sangat besar. Orang yang melaksanakn proses
belajar akan memiliki pengetahuan yang lebih dari pada orang yang tidak
melakukan proses belajar. Selain itu, dari segi tingkah laku, oran belajar akan
memiliki tingkah laku yang jauh lebih baik dari pada orang yang tidak belajar.
2. W
(Weakness)
Ditinjau
dari weakness atau kelemahan orang yang belajar, bisa dikatakan tidak ada.
Proses belajar tidak sedikitpun mendatangkan sesuatu yang bersifat negatif,
justru orang yang tidak belajar lah yang kelak akan mengalami banyak kerugian
dan penyesalan.
3. O
(Opportunity)
Kesempatan
baik orang yang melakukan proses belejar akan sangat terbuka lebar.orang yang
belajar, akan meimiliki banyak peluang baik dalam hidupnya. Dan kesempatan untuk
belajar itu terbuka baik bagi semua orang yang mempunyai kemauan untuk belajar.
4. T(Thread)
Sama
seperti weakness, thread atau ancama orang belajar bisa dikatakan tidak ada.
Yang ada hanyalah ancaman bagi mereka yang tidak belajar, diantaranya adalah tidak
mengetahui perkembangan zaman, hidupnya akan statis dan terlihat tidak
mengalami perkembangan yang baik.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Belajar
adalah usaha yang dilakukan seseorang untuk mencapai perubahan tingkah laku
2. Teori
behaviorisme menekankan kepada perubahan tingkah laku seseorang yang telah
mengalami proses belajar,
3. Teori
belajar kognitivisme menekankan kepada bagaimana setiap individu memproses
informasi yang didapatkannya dari proses belajar,
4. Teori
belajar humanistik mengutamakan potensi manusia, untuk dikembangkan dan
penghargaan terhadap setiap potensi tersebut,
5. Teori
belajar konstruktivisme menekankan kepada kemampuan setiap individu untuk
mengkonstruksi sendiri pengetahuan,
6. Waktu
belajar yang baik diantaranya adalah setelah selesai shalat subuh, tengah
malam, dan dan malam hari.
7. Temapat
belajar yang baik diantaranya adalah perpustakaan, taman, dan kamar tidur.
8. Secara
umum dilihat dari analisis SWOT nya belajar tidak memiliki sisi negatif dan
sangat bermanfaat bagi banyak orang.
DAFTAR PUSTAKA
Akmala, Annisa. 2010. Teori Belajar Kognitivisme (online : http://edukasi.kompasiana.com/2011/10/24/teori-belajar-kognitivisme/ diakses 10 maret 2012)
Bouzhan. 2010. Cari Bagi Waktu Belajar yang Baik dan Benar (online :http://masbouzhan.blogspot.com/2010/09/cari-bagi-waktu-belajar-yang-baik-dan.html diakses 10 maret 2012)
Hamalik, Oemar. 2009. Kurikulum dan Pembelajaran.
Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Soemanto,
Wasty. 2010. Psikologi
Pendidikan : Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan (Edisi Baru). Jakarta : PT Rineka Cipta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar